Bahasa, Budaya Bisu Dan Produksi Ruang Pulau Semujur: Pemaknaan Resiliensi Dan Penindasan
Main Article Content
Abstract
Dalam praktik keruangan, sebagian masyarakat di pulau semujur datang dari pulau lain sebagai upaya produksi sosial. Keruangan yang dihuni sebagai tempat baru bukanlah space yang kosong atau netral, melainkan terdapat proses sosial yang memiliki keterkaitan. Pada penelitian ini akan menguji bagaimana produki sosial keruangan yang ada di Pulau Semujur dengan mengunakan teori triadik space Henri Lefebvre dan Budaya Bisu Paulo Freire. Proses keruangan itu meliputi Ruang yang dipraktikan, Representasi Ruang dan Ruang Representasional dengan praktik sosial, pola rutinitas masyarakat. Penelitian ini juga melihat bagaimana ruang itu dikonsepsikan oleh negara di pulau semujur sebagai tempat pulau yang terluar dengan bagaimana masyarakat mempraktikan ruang itu sebagai tempat penghidupan.Kemudian, bagaimana bahasa bisu hingga pendidikan yang membebaskan masih menjadi ketimpangan yang cuku kentara. Metode dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan teknik pengambilan data melalui wawancara, observasi dan pengambilan gambar. Hasil dari penelitan ini menujukan terjadinya konflik keruangan antara ruang representasi penguasa dengan praktik ruang dalam masyarakat. Kemudian, mengenai ruang representasional dapat dilihat dengan pengalaman keruangan di pulau semujur untuk bisa dihidupi lebih layak dari segi hak dasar masyarakat.
Downloads
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.