Sinergitas Ritual Adak Pua Kopi dan Spiritualitas Laudato Si’: Studi Ekoteologi di Lembah Colol, Keuskupan Ruteng

Main Article Content

Agrianus Subandi

Abstract

ABSTRAK


Penelitian ini menganalisis titik temu antara kearifan lokal masyarakat adat Manggarai melalui ritual Adak Pua Kopi di Lembah Colol dengan teologi ekologi global yang tertuang dalam Ensiklik Laudato Si' karya Paus Fransiskus. Menggunakan pisau analisis sosiologi-antropologi agama Clifford Geertz mengenai fungsi religi, penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi-kontekstual ini membedah bagaimana agama dan kebudayaan beroperasi sebagai sistem simbol yang mengintegrasikan pandangan dunia (worldview) dan etos hidup (ethos) masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Adak Pua Kopi dan Laudato Si' bersinergi membentuk konstruksi model of (model dari realitas kosmis-sakral) sekaligus model for (model panduan tindakan ekologis). Melalui kebijakan pastoral Keuskupan Ruteng yang berbasis inkulturasi, sinergitas ini mentransformasikan aktivitas agraris di Lembah Colol menjadi ruang konversi ekologis yang nyata. Petani tidak lagi memandang kopi sekadar sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai tanda kehadiran Ilahi yang wajib dirawat demi keberlanjutan hidup bersama.


Kata Kunci: Adak Pua Kopi, Laudato Si', Clifford Geertz, Ekologi Integral, Lembah Colol.


 


ABSTRAC


This study analyzes the intersection of the local wisdom of the Manggarai indigenous people through the Adak Pua Kopi ritual in the Colol Valley with the global ecological theology outlined in Pope Francis's Encyclical Letter "Laudato Si'." Using Clifford Geertz's socio-anthropological analysis of the function of religion, this qualitative research with an ethnographic-contextual approach examines how religion and culture operate as symbolic systems that integrate the community's worldview and ethos. The results show that the Adak Pua Kopi ritual and Laudato Si' synergize to construct a model of (a model of cosmic-sacred reality) and a model for (a guide for ecological action). Through the inculturation-based pastoral policy of the Ruteng Diocese, this synergy transforms agrarian activities in the Colol Valley into a tangible space for ecological conversion. Farmers no longer view coffee merely as an economic commodity, but rather as a sign of the Divine presence that must be cared for for the sustainability of life together.


Keywords: Adak Pua Kopi, Laudato Si', Clifford Geertz, Integral Ecology, Colol Valley.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Subandi, A. (2026). Sinergitas Ritual Adak Pua Kopi dan Spiritualitas Laudato Si’: Studi Ekoteologi di Lembah Colol, Keuskupan Ruteng. ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 5(7), 2707–2712. https://doi.org/10.56799/jim.v5i7.18455
Section
Articles

References

DAFTAR PUSTAKA

​Fransiskus, Paus. (2015). Ensiklik Laudato Si': Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

​Geertz, Clifford. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

​Geertz, Clifford. (1992). Kebudayaan dan Agama (Terjemahan Francisco Budi Hardiman). Yogyakarta: Kanisius.

​Jebadu, Alexander. (2009). Menggali Benih-Benih Firman dalam Budaya Manggarai. Maumere: Ledalero.

​Keuskupan Ruteng. (2021). Nota Pastoral: Integral Ekologis dalam Pastoral Kontekstual. Ruteng: Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng.

​Lon, Reginalus Sereng & Widyawati, Fransiska. (2018). Cultural and Religious Literacy in Manggarai, East Nusa Tenggara. Jurnal Kajian Agama dan Budaya, Vol. 15(2).

Similar Articles

<< < 1 2 3 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.